-->

Dari Medan Tugas hingga Sidang Etik: Perjalanan Panjang Kompol Cosmas

Redaksi
, September 05, 2025 WIB Last Updated 2025-09-05T12:03:43Z
---
Istimewa 


MEDIAWARTA.NET, Jakarta – Nama Kompol Cosmas Kaju Gae, perwira Brimob asal Nusa Tenggara Timur, kini menjadi perbincangan hangat usai dijatuhi sanksi Pemberhentian Tidak dengan Hormat (PTDH) oleh sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP). Padahal, rekam jejak pengabdiannya terhadap negara tidaklah singkat.



Dikutip dari Detik.com (4/9/2025), Cosmas mengawali kariernya di Brimob sejak 1996. Ia tercatat pernah bertugas dalam misi internasional Pasukan Garuda di Lebanon, hingga operasi berskala tinggi di Papua dan Poso. Dalam salah satu operasi di Poso, ia bahkan tertembak di bahu kiri saat menghadapi kelompok bersenjata.



Ketua Ikatan Keluarga Ngada menyebut, “Darahnya pernah tertetes untuk NKRI. Perjuangannya tidak kecil, ia mengabdi tanpa pamrih.”



Namun, perjalanan panjang itu terguncang oleh tragedi 28 Agustus 2025. Sebuah kendaraan taktis (rantis) Brimob yang ditumpangi Cosmas melindas pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Tribunnews (3/9/2025) menulis, meski sempat berhenti, rantis kembali melaju hingga menewaskan korban.


Proses etik kemudian berjalan cepat. NTV News (3/9/2025) mencatat, Cosmas dan sopir rantis dinilai melakukan pelanggaran berat yang berujung pada putusan PTDH.


Momen emosional tersaji dalam ruang sidang. Bangka Pos (4/9/2025) menggambarkan air mata Cosmas pecah saat mendengar keputusan pemecatan. Ia menegaskan tidak pernah berniat mencelakakan siapa pun, dan menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban.


Meski demikian, pihak keluarga menolak putusan itu. Dikutip Detik.com, keluarga Cosmas di NTT bahkan melakukan ritual adat Zia Ura Ngana sebagai bentuk doa dan harapan agar pengabdian panjangnya tetap dikenang, bukan semata dicoreng oleh satu peristiwa.


Kini, Kompol Cosmas berdiri di persimpangan: antara catatan heroik pengabdian di medan tugas dan tragedi yang menyeretnya keluar dari institusi. Kisahnya menjadi refleksi bahwa perjalanan seorang prajurit bisa runtuh seketika, meski jejak perjuangan untuk negeri telah ia ukir dengan darah dan air mata.


Editor redaksi 

Komentar

Tampilkan

Terkini