MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU — Sebanyak 23 Perwira Siswa (Pasis) Dikreg LVI Sesko TNI dikerahkan ke sejumlah wilayah Kalimantan Selatan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengedukasi masyarakat, termasuk pelajar, tentang bahaya kebakaran di lahan gambut.
Pengerahan pasis tersebut dilakukan di tengah tingginya ancaman karhutla dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Kalsel. Mereka tidak hanya memantau kondisi lapangan, tetapi juga turun ke lokasi kebakaran serta memberikan penyuluhan mengenai karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Pada hari pertama kedatangan, Ahad, 30 Agustus 2026, para pasis mendapat pengarahan dari Danrem 101/Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus, S.Sos., M.Si. Pengarahan itu mencakup situasi kewilayahan serta perkembangan karhutla di Kalsel.
Setelah itu, pasis dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan empat hingga lima orang. Mereka disebar berdasarkan sektor kewilayahan untuk melakukan peninjauan, pemantauan, dan penyuluhan di sejumlah daerah.
Penanganan karhutla menjadi perhatian karena dampaknya tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Asap dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat, sementara kebakaran juga berpotensi menggerus lingkungan, mengganggu perekonomian, serta mengancam keselamatan dan keamanan wilayah.
Salah satu agenda dilakukan di SMAN 5 Banjarbaru, Rabu, 2 September 2026. Di sekolah itu, para pasis menjelaskan karakteristik lahan gambut di Kalimantan Selatan kepada siswa.
Kolonel Inf Iman Widhiarto, salah seorang perwakilan Pasis Dikreg LVI Sesko TNI, mengatakan materi yang disampaikan diarahkan pada pengetahuan praktis. Para siswa diberi pemahaman mengenai karakter gambut yang berbeda dan risiko pembakaran di lahan tersebut.
«“Tadi yang kami jelaskan, yang kami tekankan itu adalah hal-hal yang benar-benar implementatif. Jadi memberikan gambaran kenapa sih lahan gambut di Kalimantan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan lahan gambut di daerah yang lain, sehingga membakar itu sangat berbahaya,” kata Iman.»
Menurut dia, pada musim kemarau akar rumput di lahan gambut dapat menjadi seperti sumbu yang memungkinkan api menjalar ke dalam tanah. Kondisi tersebut membuat kebakaran dapat meluas dan penanganannya menjadi lebih sulit.
Tim Pasis Dikreg LVI Sesko TNI tidak hanya ditempatkan di Banjarbaru. Mereka disebar ke Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Tapin, dan Barito Kuala.
“Jadi di Kalimantan saat ini ada empat tim besar yang disebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Selatan ini pun jumlahnya 23 orang dibagi menjadi lima tim lagi. Satu tim di Kota Banjarbaru, kemudian ada yang di Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Tapin, dan Batola,” ujar Iman.
Sejak tiba di Kalsel, pasis juga telah turun langsung ke sejumlah lokasi karhutla. Salah satunya kawasan Guntung Damar, dekat ring 1 Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru.
Kehadiran mereka di lapangan tidak sekadar memantau titik api. Tim juga melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan penanganan dampak karhutla di masyarakat.
Kepala SMAN 5 Banjarbaru Indriaty Ermayani mengatakan penyuluhan tersebut penting bagi siswa, terutama ketika ancaman karhutla meningkat di Banjarbaru.
Menurut dia, siswa menyambut kedatangan personel TNI dengan antusias. Pengetahuan yang diberikan diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap anak-anak kami menjadi lebih peduli dengan lingkungan sekitar mereka di rumah ataupun juga di sekolah tentunya tentang bahaya kebakaran pada saat ini,” kata Indriaty.
Salah seorang siswa SMAN 5 Banjarbaru, Rezeki Chelsea Lumban Gaol, mengaku mendapat pengetahuan baru mengenai karhutla dan karakteristik lahan yang rentan terbakar.
“Saya menyadari bahwa karhutla itu bukan cuma fenomena biasa, tapi sebuah kesadaran buat kita supaya kita itu bisa berperan lebih aktif lagi supaya pemadaman karhutla ini bisa terus berkurang,” kata Rezeki.
Editor Ahm


