![]() |
| Istimewa |
MEDIAWARTA.NET, JAKARTA -Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia tak dilewatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sekadar seremoni. Lembaga antirasuah itu melempar peringatan tegas: pers bukan pelengkap demokrasi—ia adalah salah satu senjata utama melawan korupsi.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan, di tengah medan pemberantasan korupsi yang kian kompleks dan berliku, peran pers justru makin vital—tak tergantikan.
“Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia. Di tengah upaya pemberantasan korupsi yang tidak mudah, kehadiran pers yang bebas, kritis, dan bertanggung jawab berperan penting membangun kesadaran publik,” ujarnya, Minggu (3/5/2026), seperti dilansir dari kakinews.id.
Bagi KPK, pers tak cukup hanya menjadi pengeras suara informasi. Lebih dari itu, media dituntut menjadi pemantik kesadaran kolektif—menggugah publik bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi ancaman nyata yang menggerogoti negara.
“Pers bukan sekadar menyampaikan informasi. Pers menghidupkan kesadaran bahwa korupsi adalah musuh bersama—bukan untuk ditoleransi, apalagi dibiarkan,” kata Budi.
Ketika fungsi kontrol sosial dijalankan tanpa kompromi, dampaknya tak kecil: transparansi menguat, kepercayaan publik tumbuh, dan ruang bagi tata kelola pemerintahan yang bersih makin terbuka. Namun jalan itu tidak steril.
KPK mengakui, kerja jurnalistik masih dibayangi risiko: tekanan, intimidasi, hingga berbagai bentuk gangguan di lapangan. Realitas yang tak jarang membuat kebebasan pers dipertaruhkan.
Karena itu, KPK mengklaim akan berdiri di belakang profesionalitas pers—melalui komitmen pada keterbukaan informasi dan akuntabilitas.
“Kami mendukung penuh profesionalitas pers melalui semangat transparansi dan akuntabilitas. Pers harus tetap independen, berintegritas, dan berpihak pada kebenaran,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus informasi yang sarat kepentingan, pesan ini terdengar seperti alarm keras: tanpa pers yang berani dan kritis, agenda pemberantasan korupsi berisiko kehilangan daya gigitnya.
“Teruslah menjadi suara publik,” tutup Budi.
Editor Cor

