-->

Obrolan Anang dan Jamal di Warung Kopi

Redaksi
, Juni 04, 2026 WIB Last Updated 2026-06-04T13:38:34Z
---




MEDIAWARTA.NET 


 Pagi itu warung kopi H. Udin lebih ramai dari biasanya. Bukan karena diskon kopi, melainkan karena kabar yang membuat kepala sebagian warga lebih panas daripada air ketel.


Anang datang tergesa-gesa.


"Mal, pian sudah dengar belum?"


"Dengar apa lagi? Harga kopi naik?"


"Bukan. Ada alat berat ditahan."


Jamal langsung meletakkan gelas.


"Syukurlah."


Anang bingung.


"Syukur apanya?"


"Berarti hukum kita sudah maju. Sekarang bukan cuma manusia yang bisa diperiksa, alat berat jua."


Anang mengernyit.


"Tapi yang jadi masalah, orang yang disebut-sebut terkait perkara itu masih kerja seperti biasa."


Jamal mengangguk santai.


"Oh... berarti alat beratnya yang dianggap paling berbahaya."


"Kenapa?"


"Karena alat beratnya diamankan. Orangnya dibiarkan jalan-jalan."


Mereka pun tertawa.


Anang lalu berbisik, "Jangan-jangan sekarang alat berat itu lagi diperiksa penyidik."


"Penyidik bertanya apa?"


"'Saudara ekskavator, apakah benar pada tanggal sekian saudara menggali tanpa didampingi kuasa hukum?'"


Jamal hampir tersedak kopi.


"Terus bucket-nya jadi saksi mahkota?"


"Benar. Rantai sebelah kiri jadi saksi tambahan."


Warung kopi pun pecah oleh gelak tawa.


Tak lama kemudian, Jamal kembali serius.


"Kalau begini logikanya, besok kalau ada kecelakaan, helmnya yang ditahan. Pengendaranya disuruh pulang."


Anang menimpali.


"Kalau ada kasus korupsi, kursinya dulu yang diperiksa."


"Kalau ada kebocoran anggaran, kalkulatornya yang ditetapkan tersangka."


Tawa kembali pecah.


Seorang pelanggan di meja sebelah ikut menyela.


"Mungkin alat berat itu sekarang lagi menjalani masa tahanan kota."


"Jangan fitnah," jawab Jamal. "Informasinya alat berat itu kooperatif, tidak pernah menghilangkan barang bukti dan selalu parkir tepat waktu."


Anang mengangguk setuju.


"Kalau begitu alat berat itu layak mendapat penghargaan warga teladan."


Mereka kembali tertawa.


Namun sebelum pulang, Jamal menyampaikan kalimat yang membuat warung kopi mendadak hening.


"Yang bikin rakyat bingung bukan alat beratnya ditahan atau tidak."


"Terus apa?"


"Kalau barang bukti sudah diamankan, masyarakat biasanya berharap proses hukumnya juga bergerak secepat roda rantai alat berat itu."


Anang menghabiskan kopinya.


"Benar jua, Mal."


"Karena kalau hanya alat berat yang berhenti bekerja, sementara yang lain tetap beraktivitas, rakyat bisa salah paham."


"Salah paham bagaimana?"


"Mengira yang sedang menjalani proses hukum itu memang cuma alat berat."


Warung kopi kembali riuh.


Di sudut ruangan, sebuah radio tua masih menyala pelan. Sementara para pelanggan pulang membawa satu pertanyaan yang belum terjawab:


Apakah yang sedang diperiksa perkara hukumnya, atau hanya parkiran alat beratnya?





Catatan: Tulisan ini merupakan satire dan humor sosial yang menggambarkan persepsi publik terhadap suatu keadaan. Tokoh Anang dan Jamal adalah tokoh fiktif.

Komentar

Tampilkan

Terkini