-->

Polda Kalsel Uji Surfaktan untuk Menjinakkan Api Gambut

Redaksi
, September 08, 2026 WIB Last Updated 2026-09-08T01:54:02Z
---

 

Istimewa 


MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU — Kapolda Kalimantan Selatan Inspektur Jenderal Rosyanto Yudha Hermawan memimpin pemantauan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Banjarbaru, Senin, 7 September 2026 sore. Dari Posko Pantau A. Yani, ia mengarahkan pemadaman titik api sekaligus menguji cairan surfaktan untuk menembus api yang bersembunyi di lapisan gambut.


Rosyanto datang bersama Wakapolda Kalsel, pejabat utama Polda Kalsel, para Kapolres dan Kapolresta jajaran, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Kasi Ops Korem 101/Antasari, serta Kepala Pusat Studi Kepolisian Universitas Lambung Mangkurat. Sebanyak 76 mahasiswa ULM ikut diterjunkan dalam operasi tersebut.


Pemantauan diawali dari Mako Satbrimob Polda Kalsel. Di sana, Kapolda melihat langsung proses pembuatan cairan surfaktan yang disiapkan untuk memperkuat pemadaman di lahan gambut.


Dari Satbrimob, rombongan bergerak menuju Posko Pantau Pengayuan/A. Yani. Rosyanto memberikan arahan teknis kepada para Kapolres dan Kepala Bagian Operasi mengenai penggunaan surfaktan dan strategi menghadapi titik api yang sulit dijangkau.


Kapolda kemudian turun langsung ke titik kebakaran di Jalan Tambak Buluh. Di lokasi itu, pemadaman dilakukan secara serentak dengan melibatkan personel gabungan TNI, Polri, BPBD, relawan, serta mahasiswa ULM.


Wakapolda Kalsel turut memberikan instruksi teknis mengenai tata cara penggunaan sarana dan bahan pemadam. Para mahasiswa ikut bekerja di lapangan, bergandengan dengan petugas menghadapi medan gambut yang mudah menyimpan bara.


Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Nur Khamid mengatakan penanganan karhutla di Kalsel menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Api di lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi dan kerap kembali menyala setelah api di permukaan terlihat padam.


Persoalan diperberat musim kemarau yang mengurangi ketersediaan air. Armada pemadam berukuran besar juga tidak selalu dapat mendekati titik api karena kondisi medan.


Polda Kalsel juga menghadapi kendala pasokan bahan baku surfaktan yang masih didatangkan dari luar daerah, terutama Jawa dan Surabaya. Produksi cairan tersebut pun masih dilakukan secara manual.


Untuk memotong berbagai kendala itu, Polda Kalsel mengembangkan sejumlah metode pemadaman.


Salah satunya cairan surfaktan berbasis methyl ester sulfonate (MES) dari minyak nabati. Cairan ini digunakan untuk membentuk lapisan busa dan membantu penetrasi air ke dalam tanah gambut. Formulasinya ditujukan untuk mempercepat pendinginan sekaligus menekan kemungkinan bara kembali muncul.


Penggunaan surfaktan disebut ekonomis dengan perbandingan sekitar 1 liter surfaktan untuk 100 liter air. Bahan tersebut juga disebut tidak korosif.


Inovasi berikutnya adalah kolam bioflok portabel. Wadah penampungan air itu dibuat dari rangka besi dan terpal dengan biaya sekitar Rp3,5 juta hingga Rp3,7 juta per unit. Sifatnya bongkar-pasang sehingga dapat dipindahkan mendekati lokasi kebakaran.


Cara ini menjadi solusi ketika panjang selang pemadam tidak mampu menjangkau titik api.


Polda Kalsel juga mengembangkan metode Sumbu Bawah Tanah atau Sumbut. Metode ini menggunakan pipa PVC atau besi berlubang yang ditancapkan ke lapisan gambut dan dihubungkan dengan nozzle selang.


Air dan surfaktan kemudian dialirkan langsung ke lapisan tanah tempat bara berada. Dengan cara tersebut, pemadaman tidak hanya menyasar api yang terlihat di permukaan.


Polda Kalsel mengumpulkan para Kapolres, terutama dari wilayah rawan karhutla seperti Tanah Laut, Barito Kuala, Kabupaten Banjar, dan Banjarbaru. Mereka diminta memahami teknik pencampuran konsentrat surfaktan sekaligus menyiapkan distribusi cairan tersebut ke wilayah hukum masing-masing.


Bantuan juga mulai didorong keluar Kalsel. Polda Kalsel mengirim 1 ton cairan surfaktan ke Polda Kalimantan Tengah sebagai dukungan penanganan karhutla di wilayah tersebut.


Ke depan, Polda Kalsel menyiapkan gudang Biro Logistik sebagai lokasi pabrikasi surfaktan dalam skala lebih besar. Rencana itu bergantung pada tersedianya pasokan bahan baku secara berkelanjutan.


Pelibatan 76 mahasiswa ULM menjadi bagian lain dari strategi tersebut. Bersama Pusat Studi Kepolisian ULM, Polda Kalsel membuka ruang kolaborasi antara operasi lapangan, edukasi masyarakat, dan riset.


Pesannya jelas: menghadapi karhutla tidak cukup hanya mengejar api yang terlihat. Bara yang bersembunyi di bawah gambut harus diburu sampai tuntas.


Editor Ahm 

Komentar

Tampilkan

Terkini