![]() |
| Jamal dan anang |
Warung Kopi "Harapan Baru" pagi itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pelanggan yang sibuk menyeruput kopi sambil membaca berita dari telepon genggam masing-masing.
Di sudut warung, Jamal dan Anang duduk berhadapan.
"Katanya negara sedang sibuk mengurus gizi rakyat," kata Jamal membuka percakapan.
Anang mengangguk.
"Katanya begitu."
"Baguslah. Berarti yang dibahas sekarang soal kualitas makanan, manfaat program, dan nasib masyarakat."
Anang tertawa kecil.
"Kau terlalu optimistis."
Jamal meletakkan ponselnya.
"Memangnya yang dibahas apa?"
"Polemik."
"Polemik apa?"
"Polemik tentang polemik."
"Maksudnya?"
"Polemik yang menjelaskan polemik sebelumnya yang muncul karena polemik terdahulu."
Jamal terdiam beberapa detik.
"Jadi urusan gizinya?"
"Masih menunggu jadwal."
Pemilik warung datang mengantar dua gelas kopi.
"Kopi pahit dua," katanya.
Anang tersenyum.
"Untung yang pahit cuma kopinya."
Jamal menunjuk layar ponselnya.
"Aku heran. Kalau ada masalah, kenapa tidak diselesaikan?"
Anang menjawab santai.
"Karena masalah yang selesai tidak bisa lagi diperdebatkan."
"Kalau begitu rakyat dapat apa?"
"Konten."
"Solusi?"
"Nanti."
"Manfaat?"
"Tunggu evaluasi."
"Evaluasinya kapan?"
"Setelah klarifikasi."
"Klarifikasinya kapan?"
"Setelah bantahan."
"Bantahannya kapan?"
"Setelah konferensi pers."
Jamal menghela napas panjang.
"Rumit juga."
"Namanya birokrasi modern," kata Anang.
"Bagaimana maksudnya?"
"Dulu orang bekerja lalu membuat laporan."
"Sekarang?"
"Orang membuat laporan tentang mengapa pekerjaan belum selesai."
Beberapa pengunjung warung mulai tertawa mendengar percakapan itu.
Seorang pelanggan di meja sebelah ikut menyela.
"Kalau begini terus, siapa yang paling sehat?"
Jamal menjawab cepat.
"Polemiknya."
"Kenapa?"
"Karena setiap hari diberi makan."
Warung kopi kembali riuh.
Di luar, lalu lintas berjalan seperti biasa. Rakyat berangkat bekerja, pedagang membuka toko, petani turun ke sawah, dan anak-anak berangkat sekolah.
Mereka tidak terlalu peduli siapa yang menang dalam adu pernyataan.
Mereka hanya ingin satu hal sederhana:
Ketika sebuah program dibuat atas nama rakyat, yang bertambah adalah manfaatnya, bukan keramaiannya.
Sebab bagi rakyat kecil, polemik tidak bisa dimakan.
"Di negeri yang gemar berdebat, terkadang yang paling lapar adalah akal sehat."
Tulisan ini merupakan karya satir dan kritik sosial yang menggunakan humor, ironi, dan hiperbola. Tidak dimaksudkan sebagai laporan fakta mengenai individu atau lembaga tertentu.


