-->

Milad Ke-2 FKPWK Kalsel Jadi Panggung Kritik, Pemda Disentil Soal Prestasi dan Karhutla

Redaksi
, Agustus 22, 2026 WIB Last Updated 2026-08-22T06:37:06Z
---

 

Foto Chan


MEDIAWARTA.NET,BANJARMASIN — Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) Kalimantan Selatan menggelar Milad ke-2 di Efa Cafe Coffee and Eatery, Hotel Eva, Banjarmasin, Sabtu (22/8/2026), dengan mengangkat tema “Tumbuh Mandiri Bangkit Bersinergi”. Di hadapan ratusan tamu dari berbagai elemen, FKPWK secara terbuka menyoroti minimnya apresiasi pemerintah terhadap anak Banua berprestasi sekaligus mendesak penanganan karhutla dan kabut asap diperketat karena mulai mengganggu kesehatan serta aktivitas warga.


Peringatan milad itu tidak hanya menjadi seremoni pertambahan usia organisasi. FKPWK memanfaatkannya untuk menunjukkan sikap kritis terhadap sejumlah persoalan yang dinilai menyentuh kepentingan masyarakat.


Salah satu sorotan diarahkan pada minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap warga Kalimantan Selatan yang berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional hingga internasional.


Dalam momentum tersebut, FKPWK memberikan penghargaan secara mandiri kepada sejumlah tokoh dan warga berprestasi. Salah satunya seorang pelajar yang meraih prestasi internasional melalui lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, bersama guru pembimbingnya. Penghargaan juga diberikan kepada pencipta lagu-lagu daerah Banjar.


Ketua Dewan Pembina FKPWK Kalsel, H. Junaidi, mengatakan penghargaan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap pemerintah daerah yang dinilai belum memberikan perhatian memadai kepada anak-anak berprestasi.


“Penghargaan ini bentuk apresiasi internal kami. Namun, ini sekaligus sentilan dan cara kami merangsang serta mengingatkan pejabat yang berwenang. Ada anak daerah yang prestasinya diakui lembaga dunia seperti NASA, kenapa justru Pemda tidak memberikan penghargaan? Jangan jangankan materi, ucapan selamat pun hampir tidak ada,” ujar Junaidi.


Menurut dia, pemerintah seharusnya hadir ketika warganya membawa nama daerah ke tingkat internasional. Pengakuan tersebut penting agar prestasi anak Banua tidak berhenti sebagai catatan pribadi, tetapi menjadi kebanggaan bersama.


Ketua DPP FKPWK Kalsel, H. Rachmad Fadillah S.H., memastikan penghargaan kepada warga berprestasi akan dijadikan program tahunan organisasi. Langkah itu disebut sebagai bentuk konsistensi FKPWK dalam mendorong masyarakat yang telah memberikan kontribusi bagi daerah.


Selain apresiasi, FKPWK menyoroti persoalan karhutla yang kembali memicu kabut asap di sejumlah wilayah Kalsel.


Pengurus FKPWK, Akhmad Murjani, meminta pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang rentan terdampak buruk kualitas udara.


Menurut Murjani, kabut asap tidak hanya mengancam kesehatan. Gangguan juga mulai dirasakan pada sektor transportasi dan distribusi logistik, termasuk jalur Liang Anggang-Pelaihari dan kawasan Banjarbaru.


“Asap ini sudah mengganggu transportasi logistik, seperti di jalur Liang Anggang ke Pelaihari maupun Banjarbaru. Dampaknya harga bahan pokok naik dan ekonomi warga tertekan. Pemda harus serius. Pikirkan juga anak-anak sekolah, apakah perlu diliburkan atau ada skema alternatif agar mereka tidak menjadi korban ISPA,” tegas Murjani.


FKPWK juga menyiapkan tim advokasi untuk mendampingi masyarakat yang menjadi korban karhutla. Tim Advokat FKPWK, Bujino A. Sahlan, mengatakan warga yang kehilangan lahan, rumah, maupun sumber mata pencaharian perlu mendapat pendampingan agar hak mereka tidak terabaikan.


“Ini sudah masuk kategori bencana. Banyak warga kehilangan mata pencaharian dan rumah. Kami dari tim advokasi siap mendampingi masyarakat agar mereka mendapatkan hak serta fasilitas bantuan sosial dari pemerintah,” ujar Bujino.


Sementara itu, Junaidi menanggapi agenda kunjungan Presiden ke Kalimantan Selatan untuk memantau penanganan karhutla. Ia mengapresiasi perhatian pemerintah pusat, tetapi menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi evaluasi keras bagi pemerintah daerah.


Menurut dia, karhutla merupakan persoalan berulang yang tidak bisa terus ditangani dengan pola yang sama setiap tahun. Pemerintah perlu membangun strategi pencegahan yang lebih permanen, bukan hanya bergerak setelah api meluas dan asap memenuhi permukiman.


“Sampai Presiden harus turun tangan, artinya kasus ini sudah luar biasa. Ini kejadian berulang setiap tahun di Kalsel, Kalteng, dan Kaltim. Masa kita terus jatuh ke lubang yang sama? Harus ada formula dan pemikiran khusus dari pemerintah agar karhutla ini tidak terus-menerus terulang,” pungkasnya.


Milad ke-2 FKPWK pun berakhir bukan sekadar perayaan organisasi. Forum tersebut menempatkan penghargaan terhadap prestasi warga dan penanganan karhutla sebagai dua pesan utama: pemerintah diminta lebih peka terhadap capaian anak Banua dan lebih serius menghadapi bencana yang terus berulang.


Editor Cor 

Komentar

Tampilkan

Terkini