![]() |
Istimewa |
MEDIAWARTA.NET, Jakarta — Deru motor ribuan pengemudi ojek online (ojol) memenuhi jalanan menuju pemakaman Affan Kurniawan (21). Tak ada teriakan marah, hanya suara knalpot yang bergaung sebagai simbol solidaritas. Affan, tulang punggung keluarga yang sehari-hari mencari nafkah dengan mengantar pesanan, kini pulang untuk selamanya setelah tewas dilindas kendaraan taktis Brimob.
Duka itu tak hanya milik keluarga Affan, tapi juga ribuan ojol yang merasa kehilangan saudara seperjuangan. “Kami ingin hukum ditegakkan, jangan ada lagi korban dari rakyat kecil,” ucap salah satu pengemudi ojol dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah kesedihan itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir. Ia tidak hanya berdiri sebagai pimpinan Polri, tapi juga sebagai seorang manusia yang datang menyampaikan penyesalan.
“Saya sangat menyesali insiden yang terjadi, dan mohon maaf sebesar-besarnya atas peristiwa ini,” ujarnya kepada keluarga Affan di RSCM, seperti dikutip dari detikNews.
Tak berhenti di situ, Kapolri memastikan langkah konkret.
“Saya minta Kapolda segera mengambil tindakan bersama tim Pusdokkes dan Karumkit Polri. Kadiv Propam juga sudah saya perintahkan menindaklanjuti secara transparan,” tegasnya. Pernyataan itu adalah janji bahwa tragedi ini tidak akan sekadar menjadi berita sesaat.
Kehadiran Kapolri di pemakaman disambut haru. Ia menyalami keluarga almarhum, berusaha meredakan luka yang mungkin tak akan pernah sepenuhnya sembuh.
“Kami menyampaikan belasungkawa dan minta maaf kepada keluarga almarhum terkait musibah yang terjadi. Kami juga mempersiapkan pemakaman sesuai permintaan keluarga,” ungkapnya dalam keterangan Times Indonesia.
Sementara itu, komunitas ojol menegaskan bahwa Affan hanyalah pekerja yang kebetulan terjebak dalam situasi mencekam. “Affan Kurniawan bukan bagian dari kerusuhan, melainkan korban yang terjebak,” kata Raden Igun Wicaksono, Ketua Umum Garda Indonesia, dikutip dari ANTARA News.
Di liang lahat, doa-doa lirih bercampur dengan amarah yang ditahan. Affan kini tenang, tapi kisahnya menjadi cermin bahwa dalam setiap operasi keamanan, ada nyawa rakyat kecil yang harus dilindungi. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit: negara tidak boleh lalai, sebab setiap roda baja dan sirine aparat sejatinya adalah pelindung, bukan ancaman.
Solidaritas ribuan ojol yang mengiringi pemakaman adalah alarm nurani: rakyat bisa sabar, tapi tidak bisa dibungkam ketika nyawa melayang sia-sia. Kini, semua mata tertuju pada Polri. Apakah janji Kapolri akan benar-benar menyalakan keadilan, atau hanya jadi gema di tengah pekuburan duka.
Editor redaksi