![]() |
| Istimewa |
MEDIAWARTA.NET,SUMETERA-Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra memasuki fase terburuknya. Jumlah korban jiwa terus bertambah hingga mencapai 174 orang, menjadikan peristiwa ini salah satu bencana hidrometeorologi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Tiga provinsi—Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat—menjadi episentrum kehancuran.(28/11/2025)
Hujan deras yang tak kunjung reda digerakkan oleh Siklon Tropis Senyar, fenomena cuaca langka yang terbentuk di Selat Malaka. Siklon ini memompa massa udara basah ke daratan, memicu banjir bandang dan longsor di sejumlah titik rawan. Di beberapa wilayah, air bah datang tanpa peringatan: rumah terseret, jembatan runtuh, dan desa-desa tersisa lumpur tebal.
Sumatera Utara mencatat jumlah korban terbesar. Sementara di Sumatera Barat, luapan sungai dan tanah longsor menghantam lebih dari 13 kabupaten/kota, memaksa pemerintah provinsi menetapkan status tanggap darurat. Aceh tak luput: daerah-daerah di pesisir dan perbukitan mengalami kerusakan serius, sebagian terisolasi akibat akses jalan putus.
Di lapangan, aparat BNPB, TNI, dan Polri bekerja dalam kondisi serba-tidak-ideal. Evakuasi warga terhambat cuaca buruk, aliran listrik padam, serta medan yang sulit dijangkau. Bantuan logistik mulai mengalir, namun distribusinya masih menghadapi kendala akses.
Meski skala bencana terus melebar, pemerintah pusat belum menetapkan status bencana nasional. Keputusan ini memunculkan kritik, terutama dari kalangan pemerhati kebencanaan yang menilai koordinasi lintas sektor akan lebih kuat bila status diperjelas.
Para ahli mengingatkan bahwa banjir dan longsor kali ini bukan hanya soal curah hujan ekstrem, tetapi cermin rapuhnya tata kelola lingkungan: deforestasi, alih fungsi lahan, serta permukiman yang tumbuh di zona merah bencana. Tanpa pembenahan, Sumatra tetap menjadi pulau yang berdiri di atas bahaya berulang.
Editor Cor

