![]() |
| Istimewa |
MEDIAWARTA.NET,BANJARMASIN – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Banjarmasin akhirnya buka suara terkait gelombang keluhan masyarakat atas pemadaman listrik bergilir yang melanda Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Dalam audiensi bersama perwakilan warga, Asisten Manager Pelayanan UP3 PLN Banjarmasin, Hendy, mengakui sistem kelistrikan Kalselteng masih mengalami defisit akibat gangguan sejumlah pembangkit.
Audiensi yang digelar di Kantor UP3 PLN Banjarmasin itu menjadi forum penyampaian aspirasi masyarakat yang selama beberapa pekan terakhir terdampak pemadaman berulang. Hendy menyampaikan apresiasi kepada warga yang memilih menyampaikan tuntutan secara langsung.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang hadir menyampaikan aspirasi. Kami memahami keresahan yang dirasakan pelanggan akibat kondisi yang terjadi saat ini," ujar Hendy.
Dalam penjelasannya, Hendy mengungkapkan kondisi kelistrikan sebenarnya diproyeksikan mulai pulih dua pekan lalu. Namun, rencana tersebut gagal setelah terjadi kerusakan baru pada dua pembangkit secara bersamaan, yakni di wilayah Tanjung dan Kuala Kurun, saat proses perbaikan PLTU Asam-Asam berlangsung.
Menurut dia, gangguan tersebut berdampak besar karena sistem kelistrikan di Pulau Kalimantan telah terintegrasi. Pasokan listrik dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara saling terhubung dalam satu jaringan sehingga kerusakan di satu wilayah ikut memengaruhi daerah lainnya, termasuk Banjarmasin.
Meski masih memiliki sejumlah unit pembangkit yang beroperasi, kapasitas yang tersedia belum mampu menutup tingginya beban listrik ketika beberapa pembangkit mengalami gangguan secara bersamaan.
PLN menargetkan tambahan pasokan mulai masuk secara bertahap. Hendy menyebut pembangkit di Tanjung dijadwalkan menyumbang 100 megawatt (MW) pada 29 Juli 2026, disusul pembangkit Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, sebesar 100 MW paling lambat 6 Agustus 2026.
Dengan tambahan total 200 MW, status kelistrikan Kalselteng diharapkan meningkat dari kondisi defisit menjadi siaga, yakni kapasitas pembangkit mulai seimbang dengan kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, Hendy menegaskan pemadaman bergilir belum sepenuhnya berakhir.
"Pemadaman bergilir masih tetap ada, tetapi durasinya akan berkurang. Jika sebelumnya bisa mencapai lima hingga enam jam, nantinya diperkirakan menjadi sekitar dua hingga tiga jam selama masa transisi," katanya.
PLN juga mengupayakan pengurangan beban jaringan dengan meminta pelanggan berdaya besar, termasuk pusat perbelanjaan, memanfaatkan genset secara mandiri agar distribusi listrik kepada masyarakat dapat lebih optimal.
Selain itu, PLN menargetkan pembangkit PLTU Asam-Asam kembali beroperasi pada 29 Agustus 2026. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, sistem kelistrikan Kalselteng diperkirakan kembali stabil pada September 2026.
Menutup audiensi, Hendy menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan serta memastikan PLN terus bekerja mempercepat pemulihan sistem kelistrikan sambil menyerap berbagai masukan dari masyarakat.


