-->

Kapolda Kalsel, KSAD, dan BNPB Uji Water Bombing Surfaktan untuk Padamkan Karhutla

Redaksi
, Oktober 20, 2026 WIB Last Updated 2026-10-20T01:37:38Z
---

 


MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU — Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi dan Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, Senin, 19 Oktober 2026. Peninjauan ini sekaligus menguji metode pemadaman melalui udara menggunakan cairan surfaktan PYROX.


Kedatangan rombongan disambut Kapolda Kalsel bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di VIP Room Lanud Syamsudin Noor, Banjarbaru. Agenda dilanjutkan ke Jalan Gubernur Syarkawi untuk melihat langsung proses pemadaman titik api.


Rombongan kemudian meninjau kawasan lahan jagung Polda Kalsel di Pal 17. Di lokasi tersebut, petugas menyiapkan embung portabel sebagai penampungan air sekaligus menguji kombinasi air dan surfaktan untuk mendukung pemadaman melalui helikopter water bombing.


Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Nur Khamid menjelaskan, embung portabel berukuran panjang 20 meter dengan kedalaman dua meter ditargetkan rampung pada sore hari dan langsung dioperasikan.


Air dari embung itu akan dicampur dengan surfaktan khusus jenis PYROX, kemudian diangkut menggunakan helikopter untuk dijatuhkan ke pusat titik api. Metode ini menjadi uji coba untuk mengukur efektivitas surfaktan melalui pemadaman udara, yang sebelumnya lebih banyak diterapkan melalui penyuntikan dari darat atau grounding.


Pengujian tersebut diharapkan memberikan alternatif penanganan karhutla, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas darat. Namun, efektivitas metode ini masih perlu dibuktikan melalui hasil uji coba di lapangan.


Sinergi TNI, Polri, BNPB, dan pemerintah daerah menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Penggunaan teknologi pemadaman udara diharapkan mampu menjangkau titik api hingga ke bagian dalam lahan gambut, yang kerap menyulitkan proses pemadaman.


Keberhasilan metode tersebut akan bergantung pada hasil pengujian, kondisi lapangan, serta kemampuan petugas memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala.


Editor Ahm 

Komentar

Tampilkan

Terkini