![]() |
| Irjen Pol Napoleon Bonaparte dalam sebuah podcast forum kejadian tv |
JAKARTA, MEDIAWARTA.NET – Mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno melontarkan kritik keras terhadap penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya terkait penanganan perkara yang melibatkan Roy Suryo dan dr. Tifa. Ia menilai penyidik mengabaikan permintaan resmi yang telah disampaikannya.
Oegroseno mengungkapkan, dirinya telah meminta agar pemeriksaan kesehatan Roy Suryo dan dr. Tifa dilakukan di Polda Metro Jaya. Permintaan tersebut bahkan dituangkan dalam surat tulisan tangan yang dikirim langsung kepada Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Namun, permintaan itu tidak diakomodasi. Penyidik tetap membawa Roy Suryo dan dr. Tifa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
“Saya kecewa sebagai purnawirawan tinggi tak dianggap dan tak dihormati oleh yang masih dinas aktif. Coba pakai nurani,” tegas Oegroseno (20/06/2026) dikutip dari kompas
Kekecewaan itu semakin besar karena, menurut Oegroseno, salah satu penyidik yang menangani perkara tersebut pernah terlibat dalam proses pendampingan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis saat bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo dalam rangka memenuhi syarat restorative justice.
Selain menyoroti prosedur pemeriksaan, Oegroseno juga mempertanyakan cara penyidik membawa dr. Tifa. Ia menilai tindakan tersebut berlebihan dan tidak sebanding dengan status hukum yang bersangkutan.
“Beliau akan melaksanakan ujian. Saat hendak keluar dari kendaraan justru dipepet dari belakang dan samping,” ujarnya.
Menurutnya, perlakuan tersebut tidak layak diberikan kepada seseorang yang bukan pelaku kejahatan berat dan sejak awal tidak ditahan.
“Ibu Tifa bukan teroris, bukan pelaku kejahatan serius. Dari awal juga tidak ditahan,” katanya.
Pernyataan Oegroseno mendapat dukungan dari mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Pol (Purn) Napoleon Bonaparte dalam sebuah podcast Forum Keadilan TV. Napoleon menegaskan persoalan ini bukan sekadar menyangkut prosedur penyidikan, tetapi juga etika dan penghormatan terhadap senior di institusi Polri.
Menurut Napoleon, Oegroseno merupakan sosok yang pernah menempati posisi strategis sebagai Wakapolri dan memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan karier banyak anggota Polri.
.“Pak Oegroseno itu bintang tiga, mantan Wakapolri. Jabatan Wakapolri sangat strategis di Polri. Banyak anggota yang kariernya berkembang karena andil beliau,” ujar Napoleon.
Napoleon menegaskan, penghormatan kepada senior tidak boleh hilang hanya karena yang bersangkutan telah memasuki masa purnatugas
.“Walaupun beliau sudah pensiun, tetap harus dihormati. Beliau pernah menjadi Wakapolri. Itu bagian dari etika institusi,” tegasnya.
Ia mengibaratkan penghormatan kepada senior seperti adab menerima tamu di rumah sendiri
.“Kalau ada tamu datang ke rumah, sebagai tuan rumah tentu dibukakan pintu, dipersilakan masuk dan ditanya keperluannya. Jangan sampai senior datang seolah tidak dikenal. Itu tidak elok,” kata Napoleon.
Napoleon mengaku memiliki pengalaman berbeda setelah pensiun. Ia menyebut masih sering mendapatkan pelayanan dan penghormatan dari anggota Polri, termasuk saat mengurus administrasi kendaraan di Samsat.
Editor Cor


