![]() |
| Doc istimewa |
MEDIAWARTA.NET,JAKARTA — Pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, dikabarkan tengah membidik 62,2 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Jika terealisasi, langkah pemilik Jhonlin Group itu berpotensi menjadi salah satu manuver korporasi terbesar sekaligus mengubah peta persaingan bisnis batu bara dan energi nasional.
Haji Isam, yang dikenal sebagai salah satu pengusaha besar asal Kalsel, selama ini membangun Jhonlin Group dengan gurita bisnis yang mencakup pertambangan, logistik, jasa, perkebunan hingga infrastruktur pendukung energi.
Kini namanya kembali mencuat setelah muncul kabar bahwa Jhonlin Group bersiap mengambil alih porsi mayoritas saham Bayan Resources, salah satu raksasa batu bara Indonesia yang dikendalikan taipan Dato’ Low Tuck Kwong.
Namun hingga Minggu, 16 Agustus 2026, belum ada keterangan resmi dari manajemen Jhonlin Group maupun Bayan Resources mengenai nilai transaksi, struktur pembelian, sumber pendanaan ataupun kepastian eksekusi akuisisi tersebut.
Sinyal mengenai kemungkinan perubahan kepemilikan BYAN menguat setelah Haji Isam hadir dalam agenda peninjauan lapangan di kawasan operasional Bayan Resources di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dalam agenda tersebut, Haji Isam disebut hadir bersama Low Tuck Kwong serta Norman Joesoef, pemilik Republik Korpora Indonesia atau Republikorp.
Pertemuan itu disebut menyentuh aspek teknis konsolidasi aset, infrastruktur dan penyelarasan strategi bisnis. Belum ada konfirmasi bahwa agenda tersebut merupakan bagian dari proses akuisisi. Namun kemunculan para pemain besar itu membuat kabar perubahan kepemilikan BYAN semakin menjadi sorotan.
Haji Isam bukan pendatang baru dalam permainan bisnis energi.
Dari Kalsel, ia membangun Jhonlin Group menjadi kelompok usaha dengan cakupan bisnis yang luas. Pertambangan, logistik dan infrastruktur menjadi bagian penting dari ekspansi bisnisnya.
Pada Mei 2026, ia diketahui membeli sekitar 6,83 miliar saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) atau setara 22,12 persen kepemilikan.
Bayan memiliki basis produksi batu bara besar di Tabang, Kutai Kartanegara. Perseroan juga memiliki rantai operasi terintegrasi, mulai dari konsesi tambang, jalan angkut, fasilitas pengolahan, pelabuhan hingga transshipment.
Jika Jhonlin Group benar-benar masuk dengan penguasaan 62,2 persen saham, Haji Isam berpotensi bukan sekadar memperbesar portofolio.
Ia berpotensi memperbesar pengaruhnya di jantung industri batu bara Indonesia.
Potensi sinergi menjadi salah satu sorotan utama.
Kekuatan Jhonlin Group di sektor pertambangan, logistik dan infrastruktur dapat bertemu dengan mesin produksi Bayan Resources di Kalimantan Timur.
Sementara Republikorp memiliki kekuatan di sektor logistik dan maritim. Kapal tunda, tongkang hingga infrastruktur pelabuhan berpotensi memperkuat rantai distribusi batu bara dari tambang menuju pasar domestik maupun ekspor.
Jika kekuatan tersebut terkonsolidasi, rantai pasok batu bara berpotensi semakin terintegrasi.
Dari lubang tambang hingga jalur distribusi, setiap mata rantai dapat terhubung dalam satu orbit bisnis.
Daya ledak kabar tersebut terletak pada skalanya.
Jika transaksi akhirnya benar-benar terealisasi, masuknya Jhonlin Group ke Bayan Resources bukan hanya akan mengubah struktur kepemilikan salah satu raksasa batu bara Indonesia.
Aksi tersebut juga berpotensi mengubah peta persaingan industri energi nasional, memperkuat integrasi rantai pasok batu bara, dan menciptakan salah satu episode akuisisi terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Data kepemilikan sebelumnya menunjukkan Low Tuck Kwong masih menjadi pemegang saham pengendali Bayan Resources dengan sekitar 40,23 persen saham setelah melakukan pembelian tambahan pada Mei 2026.
Karena itu, kabar mengenai bidikan 62,2 persen saham BYAN menjadi perhatian serius pasar.
Nilai transaksi, sumber dana, struktur akuisisi, status pengendalian dan dampaknya terhadap pasar masih menunggu kepastian.
Namun satu hal sudah jelas: nama Haji Isam kini kembali berada di pusat radar bisnis nasional.
Jika 62,2 persen saham BYAN benar-benar berpindah tangan, yang bergeser bukan sekadar angka dalam tabel kepemilikan.
Kursi kekuasaan di salah satu sektor paling strategis Indonesia berpotensi ikut berpindah.
Dan dari Kalimantan Selatan, Haji Isam dikabarkan tengah membidik salah satu mahkota terbesar di kerajaan batu bara Indonesia.
Editor Cor


