![]() |
| Istimewa |
MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU — Sekitar 7.000 orang mengikuti Salat Istisqa dan doa bersama yang digelar Polda Kalimantan Selatan bersama jajaran Polres, Forkopimda, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga di Lapangan Mako Brimob Polda Kalsel, Banjarbaru, Rabu, 19 Agustus 2026 pagi. Doa dipanjatkan di tengah kemarau panjang, kekeringan, dan kabut asap yang mulai menyelimuti sejumlah wilayah.
Salat dimulai sekitar pukul 06.30 WITA. Bagi Polda Kalsel, ritual tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan. Ia menjadi ikhtiar spiritual ketika upaya teknis menghadapi kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghadapi berbagai keterbatasan.
Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan mengatakan Salat Istisqa menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memohon turunnya hujan.
“Tujuan dilaksanakan Salat Istisqa ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon agar diturunkan hujan,” ujar Rosyanto.
Dari sekitar 7.000 peserta, 2.000 orang berasal dari lingkungan Polda Kalsel, 4.000 dari Polres jajaran, dan sekitar 1.000 lainnya dari unsur Forkopimda provinsi maupun kabupaten/kota, alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga.
Rosyanto mengatakan kemarau mulai menekan kehidupan masyarakat. Kekeringan berdampak pada ketersediaan air, sementara kondisi lahan yang kering memperbesar ancaman karhutla di sejumlah daerah.
“Seperti yang pagi ini kita rasakan, terjadi beberapa titik kebakaran lahan dan hutan yang juga berdampak pada kehidupan masyarakat dan menimbulkan berbagai permasalahan, mulai dari meningkatnya potensi gangguan kesehatan, ketersediaan air, hingga berdampak pada sektor pertanian dan peternakan,” katanya.
Menurut dia, penanganan karhutla dan dampak kemarau terus dilakukan dengan mengerahkan teknologi, peralatan, serta kemampuan personel yang tersedia. Namun, ikhtiar manusia tetap memiliki batas.
Karena itu, upaya teknis tersebut, kata Rosyanto, harus berjalan beriringan dengan doa.
“Kita tidak boleh lupa dan tidak boleh lepas dari ikhtiar, baik ikhtiar maupun memohon doa kepada Allah SWT agar kemarau panjang ini dapat segera berakhir dan dapat kita atasi,” ujarnya.
Ia juga meminta seluruh jajaran Polda Kalsel tetap berada di tengah masyarakat. Polisi diminta membantu warga yang terdampak kekeringan, menjaga ketersediaan air, mengantisipasi karhutla, dan memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Salat Istisqa juga dijadikan momentum untuk melakukan introspeksi. Masyarakat diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat penggunaan air, serta menjaga sumber air yang masih tersedia.
“Kita memohon agar Allah SWT memberikan rahmat dan pertolongannya kepada kita semua. Semoga hujan yang turun nantinya dapat memberikan kesejukan, menghidupkan kembali tanah-tanah yang kering, memenuhi sumber-sumber air, serta membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat,” tutur Rosyanto.
Polda Kalsel berharap hujan yang turun nantinya tidak hanya mengakhiri kemarau, tetapi juga membantu meredam karhutla, memulihkan sumber air, dan mengurangi tekanan terhadap masyarakat, pertanian, serta peternakan.
Di tengah ancaman kemarau dan karhutla, pesan yang dibawa dari lapangan itu cukup jelas: doa berjalan bersama ikhtiar. Pemerintah, aparat, dan masyarakat dituntut tidak hanya menunggu hujan, tetapi juga mencegah bencana yang dapat dipicu oleh kelalaian manusia.
Editor Cor


