-->

Polda Kalsel Racik Cairan Pemadam, Bara Karhutla di Gambut Diburu sampai ke Bawah Tanah

Redaksi
, September 05, 2026 WIB Last Updated 2026-09-05T01:15:56Z
---

 

Istimewa 


MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU — Polda Kalimantan Selatan mengembangkan cairan pemadam berbasis surfaktan untuk menekan kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut. Teknologi itu dipadukan dengan sistem pipa undercooling agar cairan bisa menjangkau bara api yang bersembunyi di bawah permukaan tanah.


Pengembangan teknologi tersebut ditinjau langsung Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq, Tenaga Ahli BNPB Brigjen TNI (Purn.) Herman Hidayat, dan unsur Forkopimda di Pos Pantau Pengayuan, Kota Banjarbaru, Jumat, 4 September 2026.


Penanganan karhutla di lahan gambut selama ini menghadapi masalah klasik: api bisa padam di permukaan, tetapi bara tetap hidup di bawah tanah. Bara tersebut kemudian kembali menyala ketika kondisi memungkinkan.


Polda Kalsel mencoba memutus siklus itu dengan cairan pemadam yang dikembangkan Bidlabfor. Kapolda mengatakan penggunaan cairan tersebut dapat menghemat kebutuhan air sekaligus mempercepat proses pendinginan.


“Dari hasil ini kita bisa melihat bahwa air yang digunakan untuk pemadaman khususnya di lahan gambut ini bisa efisien, dan cairan yang kita gunakan ini juga lebih efisien. Ini kita kembangkan,” ujar Rosyanto.


Formula tersebut tidak muncul begitu saja. Polda Kalsel sebelumnya memperoleh cairan pemadam gambut melalui bantuan GAPKI dari Jepang. Sampel cairan itu kemudian dibedah kandungannya oleh Bidlabfor Polda Kalsel.


Hasil penguraian menjadi dasar bagi tim laboratorium untuk meracik formula baru yang disesuaikan dengan karakter lahan gambut di Kalimantan Selatan.


Produksi kini mulai diperbesar dengan melibatkan personel Brimob. Cairan tersebut diproduksi di Mako Brimob untuk menunjang kebutuhan pemadaman di lapangan.


“Mulai per hari ini kita sudah mengembangkan dalam jumlah yang cukup banyak. Kita sudah produksi, kita gunakan lapangan yang besar di Brimob,” kata Rosyanto.


AKP Amel dari Bidlabfor Polda Kalsel menjelaskan, satu ton bahan baku utama dapat menghasilkan sekitar 4.700 liter konsentrat. Konsentrat itu kemudian dicampurkan dengan air menggunakan perbandingan satu liter konsentrat untuk 100 liter air.


Dengan formula tersebut, 4.700 liter konsentrat dapat menghasilkan sekitar 470 ribu liter larutan pemadam.


Cara kerjanya bertumpu pada kandungan surfaktan. Saat disemprotkan, cairan menghasilkan busa dan membantu memutus suplai oksigen yang menopang bara.


“Prinsip kerjanya adalah konsentrat kami itu nantinya kalau disemprotkan itu mengeluarkan busa. Konsentrat itu juga mengandung surfaktan, yang di mana surfaktan ini bisa memutus suplai rantai oksigen sehingga bara api itu di dalam bisa langsung dingin dan langsung padam,” ujar Amel.


Metode pemadaman tidak hanya menyasar permukaan. Cairan juga dialirkan ke bawah tanah melalui pipa undercooling. Sistem ini ditujukan untuk mengejar panas yang masih tersimpan di dalam lapisan gambut.


Untuk memastikan titik panas tidak luput, tim menggunakan drone thermal. Perangkat itu membantu memetakan titik panas, termasuk yang berada di bawah permukaan dan tidak terlihat secara kasatmata.


Polda Kalsel menyatakan surfaktan yang digunakan dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. Bidlabfor menyebut bahan tersebut diharapkan tidak merusak mikroorganisme maupun vegetasi di kawasan yang ditangani.


Uji penerapan sebelumnya dilakukan di lokasi yang sama. Setelah cairan disemprotkan ke lahan gambut, tim Labfor menyatakan dua hari kemudian tidak kembali menemukan asap dari titik yang telah ditangani.


Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi pengembangan tersebut. Menurut dia, perang melawan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya personel dan air. Titik api harus ditemukan, lalu inti kebakaran harus ditaklukkan.


“Kita tentu sangat mengapresiasi dua teknologi utama. Pertama, mencari inti api. Jadi, setiap kebakaran itu yang paling utama mendapatkan di mana inti api itu berada. Kedua, bagaimana menaklukkan inti api,” ujar Hanif.


Persoalan air menjadi tantangan lain. Di tengah luasnya lahan yang terbakar, kebutuhan air untuk pemadaman bisa membengkak. Karena itu, teknologi yang mampu memperluas daya kerja air dinilai memiliki nilai strategis.


Hanif mendorong agar formula tersebut dikembangkan dalam skala lebih besar dengan dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Ia juga meminta inovasi tersebut segera mendapat perlindungan hak kekayaan intelektual.


“Dalam rapat tadi, kita semua sepakat semua tim lapangan akan mencoba mendetilkan operasional yang telah dilakukan Pak Kapolda ini, kemudian mengimplementasikan pada tahap berikutnya,” kata Hanif.


Editor Ahm 

Komentar

Tampilkan

Terkini