![]() |
| Istimewa |
MEDIAWARTA.NET,MAKASSAR — Sebanyak 17 peserta dinyatakan lulus dari Liberasionis School HMJ Ekonomi Islam Periode 2026 setelah mengikuti rangkaian sekolah alternatif yang digelar pada 3–4 Oktober 2026 di lingkungan UIN Alauddin Makassar (UINAM). Kegiatan yang digagas HMJ Ekonomi Islam ini menjadi ruang untuk mengasah nalar kritis, membongkar kekeliruan berpikir, serta mendorong peserta membaca persoalan masyarakat secara lebih tajam.
Liberasionis School dirancang sebagai ruang belajar alternatif di luar pola pendidikan formal. Fokusnya bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membangun keberanian berpikir, menguji gagasan, dan melawan ketidaktahuan melalui diskusi serta pembacaan kritis terhadap berbagai persoalan.
Kegiatan tersebut diketuai Muhammad Syahril Maulana, Kepala Bidang Keilmuan dan Penalaran HMJ Ekonomi Islam. Pembukaan dilakukan oleh Ketua SEMA FEBI UINAM, Ayunda Hulwana Ahsyani. Sambutan kemudian disampaikan Ketua DEMA FEBI UINAM Muhammad Yusrifar dan Ketua HMJ Ekonomi Islam Muh. Shafir Attaullah.
Selama dua hari, peserta digembleng melalui enam materi yang menjadi fondasi utama Liberasionis School.
Materi Kerangka Berpikir Ilmiah disampaikan Andi Muhammad Rezki. Peserta kemudian diajak mengenali kesalahan dalam penalaran melalui materi Macam-macam Logic Fallacy yang disampaikan Ahmad Raihan, S.E.
Pembahasan berlanjut pada Analisis Problematika Umat oleh Rahmatullah Usman. Perspektif sejarah dan kemanusiaan kemudian dibedah melalui materi Humankind: Sejarah Penuh Harapan yang disampaikan Fuad Hidayatullah.
Dua materi terakhir membawa peserta memasuki wilayah politik dan kekuasaan. Konsepsi Politik Fitrawi disampaikan Kahar Ali Husain Zahra, S.Sos., sedangkan materi Melawan Logika Tirani dibawakan Eko Pratama.
Rangkaian pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi. Para peserta diberi ruang untuk mempresentasikan hasil pemahaman mereka. Forum itu menjadi arena untuk menguji gagasan, mempertajam argumentasi, sekaligus melihat sejauh mana pengetahuan yang diperoleh mampu diterjemahkan ke dalam cara berpikir.
Dari proses tersebut, 17 peserta akhirnya ditetapkan sebagai alumni Liberasionis School HMJ Ekonomi Islam Periode 2026.
Kelulusan itu bukan sekadar tanda berakhirnya sebuah kegiatan. Bagi penyelenggara, Liberasionis School diharapkan menjadi awal dari proses yang lebih panjang: menjadikan pencarian pengetahuan sebagai karakter dan menerjemahkannya dalam tindakan konkret di tengah masyarakat.
Sebab pengetahuan yang berhenti di ruang diskusi hanya akan menjadi wacana. Ia baru memiliki makna ketika keberanian berpikir berubah menjadi keberanian bertindak.
Pertemuan boleh berakhir. Perpisahan boleh terjadi. Namun gagasan yang telah ditanam di ruang belajar diharapkan terus bergerak, menemukan jalannya sendiri, hingga mempertemukan kembali mereka pada waktu dan perjuangan yang lebih baik.
Editor Ahm


