![]() |
| Istimewa |
MEDIAWARTA.NET, Banjarmasin, – Ribuan massa yang menamakan diri Aliansi Kalsel Melawan hari ini mengguncang Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Selatan. Namun, yang menggema bukanlah amarah membabi buta, melainkan orasi lantang yang tetap berbingkai damai. Aksi yang dimulai pukul 11.00 WITA ini berjalan tertib, tanpa satu pun percikan anarkis yang mencoreng wajah Banua.
Barisan mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, hingga tokoh masyarakat turun ke jalan dengan kepala tegak dan hati tenang. Spanduk dan poster yang mereka bentangkan bukan sekadar kain bertinta, tapi jeritan nurani rakyat yang selama ini tersumbat di ruang-ruang kekuasaan. Orasi bergantian dilontarkan, menusuk telinga para wakil rakyat yang selama ini dianggap terlalu nyaman duduk di kursi empuk parlemen.
Tak sembarangan, beberapa tokoh aktivis Banua ikut memberi warna dalam aksi ini. Ada H. Husaini (KAKI Kalsel), H. Din Jaya (Forpeban), Rolly Irawan (Pemuda Islam), dan H. Udin Palui—kehadiran mereka menjadi bukti bahwa suara jalanan kali ini bukan sekadar riuh massa, tapi denyut nadi rakyat yang menuntut keadilan.
Aliansyah, salah satu orator, mengingatkan pentingnya kedewasaan dalam berdemokrasi.
“Aksi ini bukti kita sudah belajar dari masa lalu. Jangan biarkan Banua kembali terbakar oleh kesalahan yang sama,” tegasnya, menohok memori kelam demonstrasi berdarah yang pernah terjadi di negeri ini.
Momen paling menyedot perhatian adalah saat Ketua DPRD Provinsi Kalsel, H. Supian HK, meski dalam kondisi kesehatan tak prima, berani turun langsung menemui massa. Ia tak sendiri, hadir pula Kapolda Kalsel, Danrem 101/Antasari, dan sejumlah anggota dewan. Kehadiran mereka di tengah lautan manusia menjadi simbol bahwa rakyat dan penguasa masih bisa duduk dalam satu ruang, meski berdiri di posisi yang berbeda.
Aliansyah pun tak menahan apresiasinya:
“Kami hargai keterbukaan DPRD yang mau mendengar langsung jeritan kami. Inilah demokrasi yang seharusnya: rakyat bicara, wakil rakyat mendengar, lalu bertindak.”
Di saat kota-kota lain kerap dilanda demonstrasi berujung ricuh, Banjarmasin justru memberi pelajaran berharga: bahwa suara keras tak harus diiringi pecahnya kaca, dan tuntutan rakyat tak perlu diwarnai darah.
Aksi Aliansi Kalsel Melawan hari ini bukan sekadar unjuk rasa, tapi deklarasi terbuka bahwa Banua menolak demokrasi jalanan yang barbar, dan memilih jalan terhormat: keras dalam tuntutan, lembut dalam cara penyampaian.
Aliansyah menutup dengan nada penuh harapan:
“Biarlah aksi damai Banua ini menjadi cermin bagi Indonesia. Agar aspirasi bisa menggema, tanpa harus memadamkan kedamaian.”
Hari ini, sejarah kecil tercipta di Banjarmasin: rakyat bersuara lantang, wakil rakyat mendengar, dan Banua tetap berdiri damai, namun tetap beradab.
Editor redaksi


