-->

Baru Setahun, Jembatan Kampung Bali Mulai Ambrol

Redaksi
, Agustus 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-27T08:36:45Z
---

 

Istimewa 


MEDIAWARTA.NET, MARABAHAN – Jembatan Kampung Bali di ruas Jalan Provinsi Anjir Pasar–Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, yang dibangun pada Tahun Anggaran 2025, mulai menunjukkan kerusakan serius. Pantauan pada Kamis, 20 Agustus 2026, menemukan beton abutment retak dan mengelupas, dinding penahan rusak, serta oprit mengalami penurunan.


Kerusakan itu terlihat meski usia pembangunan jembatan dengan konstruksi pileslab bentang 22,5 meter tersebut belum genap dua tahun. Kondisi ini memantik pertanyaan mengenai mutu pekerjaan, kualitas material, hingga pengawasan proyek.


Pada bagian abutment, beton tampak pecah dan amrol. Material batu di bagian dalam struktur bahkan terlihat dari luar. Kerusakan tersebut bukan sekadar retakan rambut, melainkan telah membuat sebagian struktur terkelupas.


Persoalan serupa terlihat pada sambungan antara badan jembatan dan timbunan oprit. Celah cukup lebar terbentuk di titik tersebut, mengindikasikan adanya penurunan atau pergeseran timbunan.


Bahu jalan dan dinding penahan juga tak luput dari kerusakan. Sejumlah tiang pembatas berwarna kuning-hitam tampak miring. Pondasinya terlihat retak dan mengalami kerusakan.


Permukaan aspal menuju jembatan pun tidak sepenuhnya mulus. Sejumlah bagian tampak bergelombang, berlubang, dan menunjukkan bekas tambal sulam.


Kondisi itu menjadi ironis karena jembatan tersebut merupakan infrastruktur publik yang menjadi bagian dari akses Jalan Provinsi Anjir Pasar–Marabahan.


Plang proyek di lokasi menyebut pekerjaan tersebut berada di bawah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Bidang Bina Marga. Jembatan itu tercatat sebagai Jembatan Kampung Bali, dengan konstruksi pileslab bentang 22,5 meter dan ruas Anjir Pasar–Marabahan, TA 2025.


“Usia proyek baru sekitar satu tahun, tapi kerusakannya sudah separah ini. Kami khawatir membahayakan pengguna jalan Anjir–Marabahan,” ujar seorang warga.


Kerusakan yang muncul relatif dini tersebut membuka ruang pertanyaan lebih serius. Apakah persoalannya terletak pada konstruksi, material, kondisi tanah, pelaksanaan pekerjaan, atau lemahnya pengawasan?


Namun, tudingan gagal konstruksi belum dapat disimpulkan hanya dari pantauan visual. Pemeriksaan teknis dan audit diperlukan untuk memastikan penyebab kerusakan serta pihak yang bertanggung jawab.


Hingga berita ini diturunkan, Dinas PUPR Provinsi Kalimantan Selatan belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab kerusakan, kualitas pekerjaan, maupun langkah penanganan terhadap Jembatan Kampung Bali.


Pemerintah daerah diharapkan tidak menunggu kerusakan membesar. Audit teknis, pemeriksaan mutu konstruksi, dan evaluasi pekerjaan perlu dilakukan sebelum persoalan infrastruktur berubah menjadi ancaman keselamatan pengguna jalan.


Editor Cor 

Komentar

Tampilkan

Terkini