![]() |
| Istimewa |
MEDIAWARTA.NET,TANAH LAUT — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Jalan Ahmad Yani, Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Kamis, 13 Agustus 2026. Api yang semula hanya berupa kepulan asap dalam dua jam berubah menjadi kobaran yang merambat hingga mendekati jalan raya.
Kebakaran mulai dilaporkan warga dan pengguna jalan sekitar pukul 16.00 WITA. Dari balik vegetasi, asap putih hingga kelabu terlihat membubung. Namun situasi berubah cepat.
Sekitar pukul 18.00 WITA, api membesar di sejumlah titik. Lidah api membentang di lahan dan bergerak mendekati badan jalan. Asap tebal turut mengganggu jarak pandang pengguna jalan yang melintas.
Polisi dan Pemerintah Desa Gunung Raja kemudian turun memantau lokasi. Petugas memastikan titik api sekaligus mengantisipasi kemungkinan kobaran menjalar ke kawasan lain.
Kapolsek Tambang Ulang Iptu Mangasa Siagian mengatakan pihaknya bergerak setelah menerima laporan masyarakat mengenai adanya hotspot.
“Kami mendapat informasi dari masyarakat adanya hotspot seperti di depan kita ini. Kami secepat mungkin bergerak. Personel yang piket dan tim langsung memastikan lokasi, sekaligus memastikan tidak ada korban jiwa,” ujar Mangasa.
Namun, polisi belum mau gegabah menunjuk penyebab kebakaran. Penyebab pasti api masih didalami, termasuk kemungkinan adanya aktivitas manusia.
“Kami masih mendalami apakah ini akibat perbuatan orang atau karena gesekan, misalnya daun dengan daun atau kayu dengan kayu. Itu nanti kami pastikan dulu,” katanya.
Mangasa juga menilai terlalu dini menyebut api muncul akibat gesekan vegetasi kering.
“Secara logika kami belum bisa menyampaikan bahwa itu karena gesekan, karena yang terlihat di sini di awal kebakaran masih hijau semuanya,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurut dia, api di tengah kondisi kemarau dapat dengan cepat kehilangan kendali.
“Jangan dilakukan pembakaran, karena dampaknya seperti ini. Api sangat rawan meluas, kemudian asapnya banyak mengganggu, terutama pernapasan dan keselamatan perjalanan karena jarak pandang kita menjadi terbatas dan terganggu. Jangan sampai asap mencapai permukiman penduduk,” tutur Mangasa.
Kepala Desa Gunung Raja Samsiar mengatakan kebakaran di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Api beberapa kali muncul dalam beberapa waktu terakhir, sementara penyebabnya belum diketahui secara pasti.
Pemerintah desa, kata Samsiar, telah melakukan sejumlah langkah pencegahan. Mulai dari memasang baliho, memberikan teguran hingga melakukan sosialisasi bersama BPBD, kepolisian dan pihak terkait.
“Kami sudah melakukan berbagai cara, seperti memasang baliho, peneguran, kemudian sosialisasi tentang kebakaran bersama dinas terkait, BPBD, Kapolsek dan mitra-mitra lainnya. Cuma kenyataannya di lapangan memang agak susah menyadarkan manusia,” kata Samsiar.
Persoalan lain muncul dari kepemilikan lahan. Menurut Samsiar, sebagian pemilik lahan berdomisili jauh dari lokasi, bahkan di luar Pulau Kalimantan.
“Pemilik lahan ini rata-rata orang luar daerah. Ada yang dari Martapura, Banjar, bahkan dari luar pulau seperti Jakarta dan Jawa. Kalau kita memanggil orang-orangnya untuk merawat lahan, agak susah karena komunikasinya terlalu jauh,” ujarnya.
Samsiar mengingatkan masyarakat agar tidak menambah bara di tengah musim kemarau. Membakar lahan, membakar sampah sembarangan hingga membuang puntung rokok dapat menjadi pemicu kebakaran.
“Di masa rawan seperti sekarang, kemarau dan puncaknya Agustus-September, api mudah tersulut di mana pun. Kalau membuang puntung rokok sembarangan bisa menjadi sumber api, apalagi membakar,” tegasnya.
Ia mengatakan imbauan telah berulang kali disampaikan melalui Bhabinkamtibmas dan pemerintah desa. Namun pencegahan karhutla tetap bergantung pada kesadaran masyarakat.
Upaya pemadaman baru dilakukan BPBD Kabupaten Tanah Laut sekitar pukul 18.40 WITA. Satu unit mobil selang pemadam penyemprot air dan satu unit pikap pengangkut tangki air tiba di lokasi dan langsung melakukan pembasahan terhadap lahan yang terbakar.
Namun, operasi pemadaman sempat tersendat. Mesin penyedot air mengalami kendala sehingga petugas tidak dapat langsung bekerja maksimal.
Setelah mesin diperbaiki, penyemprotan kembali dilanjutkan untuk menekan kobaran dan mencegah api merambat lebih jauh.
Karhutla di Gunung Raja kini menyisakan persoalan yang lebih besar dari sekadar api: siapa yang menjaga lahan ketika pemiliknya berada jauh, dan siapa yang bertanggung jawab ketika bara kembali menyala. Polisi masih menyelidiki sumber api, sementara warga dan pengguna jalan harus berhadapan dengan asap serta ancaman kobaran di tengah puncak musim kemarau.
Editor Cor


