![]() |
| Ilustrasi |
MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU — Suratmin (61) mengembuskan napas terakhir di RSUD Ratu Zalecha, Jumat, 28 Agustus 2026, pukul 17.56 Wita. Lelaki yang sehari-hari menjadi pejuang nafkah itu pergi setelah sebelumnya mendapat penanganan di Puskesmas Sungai Ulin. Kepergiannya kini menyisakan duka sekaligus rentetan pertanyaan tentang pelayanan kesehatan yang belum terjawab.
Kabar memilukan itu disampaikan keluarga. Sekitar pukul 17.46 Wita, anak Suratmin mengirim pesan, “Abah henti jantung.” Sepuluh menit kemudian, tim medis RSUD Ratu Zalecha menyatakan Suratmin meninggal dunia.
Kematian tersebut membuat sorotan terhadap Puskesmas Sungai Ulin semakin keras. Bukan hanya soal bagaimana kondisi Suratmin memburuk, melainkan juga apa yang terjadi ketika ia pertama kali membutuhkan pertolongan.
Salah satu bagian yang menuai perhatian ialah proses pemeriksaan yang disebut berlangsung di atas bak mobil pikap.
H Ahmad Aini, rekan kerja Suratmin, mengaku menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Menurut dia, pemeriksaan berlangsung di kendaraan, bukan di ruang pelayanan puskesmas.
Fakta itu memunculkan pertanyaan yang tak ringan. Mengapa pasien diperiksa di atas kendaraan? Bagaimana prosedur kegawatdaruratan diterapkan? Apakah seluruh tahapan pelayanan telah sesuai standar?
Pertanyaan tersebut kini tidak bisa dibiarkan menguap bersama kabar duka.
Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Suratmin.
“Innalillahi wa innailahi rojiun. Beliau meninggal... Husnul khotimah. Turut berduka cita,” tulis Lisa.
Lisa menyatakan evaluasi akan dilakukan terhadap seluruh puskesmas mulai Senin. Khusus Sungai Ulin, ia mengatakan bakal berkoordinasi dengan Kepala BKPSDM untuk menentukan langkah berikutnya.
“Mulai Senin akan dilakukan pembinaan dan evaluasi ke semua Puskesmas. Untuk yang Sungai Ulin, segera saya komunikasikan dengan Kepala BKPSDM untuk tindak lanjutnya. Pastinya saya pantau ini,” tegasnya.
Sebab masyarakat tidak membutuhkan evaluasi yang sekadar menjadi agenda administratif. Mereka membutuhkan pemeriksaan yang terang, penjelasan yang utuh, serta kepastian bahwa setiap persoalan pelayanan benar-benar ditelusuri.
Di tengah kabar kematian Suratmin, Puskesmas Sungai Ulin belum memberikan penjelasan terbuka mengenai rangkaian penanganan pasien tersebut.
Keluarga kehilangan orang terdekat. Publik menunggu kejelasan. Pemerintah daerah menyatakan akan mengevaluasi. Namun institusi yang menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian kejadian justru belum terdengar memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Sebelumnya, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Ani Rusmila, telah menyampaikan permohonan maaf serta menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap standar operasional prosedur pelayanan.
Apakah prosedur akan diperiksa secara menyeluruh? Apakah petugas terkait akan dimintai keterangan? Apakah kondisi pasien, tindakan medis, hingga keputusan rujukan akan ditelusuri secara transparan?
Semua itu harus dijawab berdasarkan fakta, bukan ditutup dengan basa-basi birokrasi.
Keluarganya kini menghadapi kehilangan yang tak bisa diputar kembali. Pemerintah masih memiliki satu pekerjaan penting: memastikan seluruh rangkaian peristiwa diperiksa secara jernih dan terbuka.
Sebab ketika seorang warga datang mencari pertolongan, yang dipertaruhkan bukan sekadar prosedur pelayanan Yang dipertaruhkan adalah keselamatan manusia.
Wrinter Zein
Editor Cor


