-->

Suratmin Kritis, Pemeriksaan di Atas Pickup Dipertanyakan

Redaksi
, Agustus 28, 2026 WIB Last Updated 2026-08-28T11:55:51Z
---

 

Istimewa 

MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU — Suratmin, 61 tahun, pasien yang mengalami kejang hebat hingga mulut berbusa, sempat dibawa ke UGD Puskesmas Sungai Ulin, Kota Banjarbaru, pada Kamis, 27 Agustus 2026 sekitar pukul 10.00 WITA. Namun, menurut keterangan Ahmad Aini, 45 tahun, rekan kerja yang mengantarnya, pemeriksaan terhadap Suratmin justru dilakukan di atas mobil pickup, bukan di dalam ruang pelayanan puskesmas.


Ahmad mengaku melihat langsung proses pemeriksaan tersebut.


Suratmin dibawa menggunakan mobil pickup dalam kondisi membutuhkan pertolongan. Setibanya di Puskesmas Sungai Ulin, menurut Ahmad, tidak terlihat petugas yang berjaga di ruang UGD. Pasien kemudian disebut diperiksa di atas kendaraan.


Pasien dalam kondisi kritis, tetapi pemeriksaan berlangsung di atas bak mobil pickup. Di mana ruang pelayanan? Di mana kesiapsiagaan UGD? Dan di mana rasa kemanusiaan ketika seseorang sedang berjuang mempertahankan hidupnya?


Keterangan Ahmad menjadi sorotan penting karena ia merupakan orang yang membawa Suratmin sekaligus menyaksikan langsung proses pemeriksaan tersebut.


Menurut dia, kondisi Suratmin saat dibawa ke puskesmas bukan kondisi biasa. Pasien mengalami kejang hebat hingga mulut berbusa sehingga membutuhkan penanganan medis segera.


Namun, alih-alih mendapatkan pemeriksaan di dalam ruang pelayanan, Suratmin disebut tetap berada di atas mobil pickup.


Peristiwa tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar penanganan pasien gawat darurat di Puskesmas Sungai Ulin.


Apakah pasien dalam kondisi kritis memang harus diperiksa di atas mobil pickup?


UGD semestinya menjadi tempat pertama bagi pasien yang membutuhkan penanganan kegawatdaruratan. Ruang tersebut bukan sekadar ruangan dengan papan bertuliskan UGD, melainkan fasilitas yang semestinya memiliki petugas dan kesiapan untuk merespons kondisi darurat.


Ironisnya, menurut keterangan saksi, proses pemeriksaan terhadap Suratmin justru berlangsung di kendaraan.


Tidak lama setelah peristiwa tersebut, Suratmin akhirnya meninggal dunia.


Kematian pasien tentu tidak dapat langsung dikaitkan sebagai akibat pemeriksaan di atas kendaraan tanpa adanya pemeriksaan medis dan investigasi resmi. Penyebab kematian harus dibuktikan berdasarkan catatan medis dan keterangan tenaga kesehatan yang menangani.


Namun, cara pasien mendapatkan pertolongan tetap menjadi persoalan yang layak dipertanyakan.


Lebih jauh, menurut informasi yang diperoleh, hingga Suratmin meninggal dunia belum ada permintaan maaf ataupun pernyataan penyesalan dari pihak Puskesmas Sungai Ulin kepada keluarga maupun pihak yang mengantar pasien.


Pada saat kejadian, awak media juga mendatangi lokasi dan melihat kondisi pelayanan di puskesmas. Temuan di lapangan tersebut semakin memperkuat kebutuhan akan penjelasan terbuka mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Nyawa bukan barang yang bisa menunggu.


Dalam kondisi darurat, setiap menit dapat berarti. Karena itu, masyarakat berhak mengetahui apakah prosedur kegawatdaruratan telah dijalankan sebagaimana mestinya saat Suratmin datang dalam kondisi kritis.


Jika pemeriksaan memang dilakukan di atas mobil pickup, pihak puskesmas perlu menjelaskan alasannya. Apakah kondisi pasien tidak memungkinkan dipindahkan? Apakah ruang UGD tersedia? Siapa petugas yang menangani? Apa tindakan medis yang diberikan? Dan mengapa pasien tidak mendapatkan pemeriksaan di dalam ruang pelayanan?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi.


Ini soal kemanusiaan.


Ketika seorang manusia sedang kejang, mulut berbusa dan membutuhkan pertolongan, yang semestinya hadir adalah tindakan medis yang cepat, tepat dan manusiawi.


Bukan sekadar menyaksikan pasien dari atas kendaraan.


Kini publik menunggu penjelasan Puskesmas Sungai Ulin dan Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru. Jangan sampai kematian Suratmin berlalu tanpa evaluasi.


Sebab bila benar ada persoalan dalam pelayanan, maka yang harus diperbaiki bukan hanya prosedurnya, tetapi juga cara negara memperlakukan warganya ketika datang meminta pertolongan.


Pasien datang mencari keselamatan. Jangan sampai yang ditemuinya justru pelayanan yang membuat pertanyaan tentang kemanusiaan.


Wrinter Zein 

Editor Cor 

Komentar

Tampilkan

Terkini