![]() |
Ilustrasi |
MEDIAWARTA.NET, Jakarta – Ibukota kembali jadi panggung kemarahan. Kematian Affan Kurniawan, driver ojol 21 tahun yang dilindas kendaraan taktis Brimob, memicu gelombang protes dari mahasiswa, buruh, hingga masyarakat sipil. Jalan-jalan utama ditutup, transportasi lumpuh, dan pusat kota lengang.
Di tengah hiruk-pikuk itu, publik menatap tajam ke Senayan. DPR yang mestinya jadi corong rakyat, justru memilih bungkam di balik pagar kawat berduri. Tidak ada langkah nyata, tidak ada suara lantang, hanya keheningan yang semakin menyulut amarah.
Sementara di lapangan, aparat kepolisian terjepit di tengah situasi panas. Mereka ditekan demonstran yang menuntut keadilan, tapi juga harus menjaga stabilitas kota agar tak semakin kacau. Beberapa titik sempat ricuh, namun aparat juga berjibaku mengendalikan kerusuhan agar tidak merembet lebih luas.
Rakyat sendiri bersuara lantang namun tetap dengan satu tuntutan: usut tuntas, transparan, dan adil. Seperti teriak ibu Affan yang pilu:
“Saya ingin orang yang membunuh anak saya dihukum seberat-beratnya… diahanya habis antar makanan.” (Detik)
“Justice for Affan: Outrage in Jakarta after delivery rider killed by police vehicle.”
Pertanyaannya kini menggantung di udara apakah DPR akan terus berlindung di balik pagar besi, sementara rakyat dan polisi sama-sama menanggung luka di jalanan.
Editor redaksi