;head> https://schema.org Polisi Ungkap Dugaan Bullying Saling Balas di SMP Banjarbaru

test

Polisi Ungkap Dugaan Bullying Saling Balas di SMP Banjarbaru

Redaksi
Selasa, 19 Mei 2026

 

Doc (Istimewa) AKBP Pius X Febry Aceng Loda, S.I.K., M.H

MEDIAWARTA.NET,BANJARBARU – Kasus dugaan perundungan yang menyeret dua siswa salah satu SMP di Kota Banjarbaru memasuki babak baru. menemukan fakta bahwa anak yang semula dilaporkan sebagai pelaku, diduga juga menjadi korban bullying di lingkungan sekolahnya.


Dikutip dari kalselpos.com, Kapolres Banjarbaru AKBP Pius X Febry Aceng Loda, S.I.K., M.H , mengatakan laporan awal berasal dari orang tua seorang anak yang mengaku mengalami intimidasi. Namun hasil penyelidikan memperlihatkan adanya dugaan perundungan yang melibatkan kedua pihak.


“Setelah kami menerima laporan dan melakukan penyelidikan, diketahui, anak terlapor ini juga merupakan korban bullying. Salah satu yang diduga melakukan perundungan adalah anak dari pelapor sendiri,” ujar Pius.


Kasus itu disebut berkembang hingga memicu trauma pada salah satu anak yang terlibat. Korban bahkan dikabarkan memilih pindah sekolah karena merasa tidak lagi nyaman berada di lingkungan sekolah.


Meski proses hukum tetap berjalan, polisi memilih membuka ruang mediasi dengan melibatkan sekolah, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya. Pendekatan itu disebut sebagai upaya mengutamakan perlindungan terhadap anak.


“Kami memberikan ruang untuk kedua belah pihak melakukan mediasi dengan melibatkan pihak sekolah, pemerintah daerah, hingga mendapat perhatian dari Ibu Wali Kota Banjarbaru. Mudah-mudahan ruang ini bisa dimanfaatkan agar ada titik temu dan anak-anak yang menjadi korban bisa kembali bergaul normal,” katanya.


Kasat Reskrim Polres AKP Arie Handoyo, menjelaskan laporan yang diterima berkaitan dengan dugaan intimidasi terhadap seorang anak saat perjalanan pulang sekolah.


“Pelapor menyampaikan, anaknya sempat diikuti satu mobil dari sekolah hingga di kawasan gardu induk Cempaka. Di dalam mobil tersebut ada dua orang dewasa dan satu anak,” ujar Ari.


Menurut dia, korban saat itu sedang dibonceng pengemudi ojek daring. Salah seorang dari dalam mobil kemudian mendekati sepeda motor korban dan melontarkan ucapan yang diduga intimidatif hingga membuat anak tersebut ketakutan.


Kata Ari, telah beberapa kali memfasilitasi mediasi bersama Dinas Perlindungan Anak Kota Banjarbaru dan tokoh masyarakat. Namun kedua pihak belum mencapai kesepakatan.


“Kami sudah beberapa kali mencoba memfasilitasi mediasi, termasuk bersama Dinas Perlindungan Anak Kota Banjarbaru. Namun sampai sekarang kedua belah pihak belum menemukan titik temu,” katanya.


Hasil pemeriksaan ahli menyebut korban mengalami gangguan stres pascatrauma disertai gangguan penyesuaian campuran cemas dan depresi. Korban juga disebut mengalami penurunan berat badan.


“Hasil pemeriksaan ahli menyatakan adanya gangguan stres pascatrauma, gangguan penyesuaian campuran cemas dan depresi. Informasinya juga ada penurunan berat badan pada anak tersebut,” pungkas Ari.



Editor Cor 

Related Posts