;head> https://schema.org Porang Didorong Jadi Senjata Baru Pangan Kalsel, 127 Hektare Digarap Serentak

test

Porang Didorong Jadi Senjata Baru Pangan Kalsel, 127 Hektare Digarap Serentak

Redaksi
Rabu, 29 April 2026

 

Istimewa 

MEDIAWARTA.NET BANJARBARU — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mulai menggeser arah kebijakan pangan. Tak lagi semata bertumpu pada padi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel mengembangkan tanaman porang seluas 127 hektare di enam kabupaten.


Langkah ini bukan sekadar proyek pertanian biasa. Pemerintah daerah terang-terangan membidik dua sasaran sekaligus: diversifikasi pangan dan peningkatan nilai ekonomi petani.


Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman, menegaskan ketahanan pangan tidak bisa lagi dibebankan pada satu sektor. Ia menyebut pendekatan lama sudah usang. Kini, seluruh perangkat daerah diminta bergerak bersama, mengikuti arahan gubernur, dengan pola kolaboratif dan berkelanjutan.


“Porang punya nilai ekonomi tinggi dan pasar terbuka luas. Ini bukan komoditas pelengkap, tapi berpotensi jadi andalan baru,” ujarnya, Selasa (28/04/2026).


Pemerintah daerah pun tak setengah hati. Selain mendorong budidaya, mereka mulai menata hilirisasi—tahap yang selama ini kerap menjadi titik lemah sektor pertanian. Peningkatan kapasitas petani hingga pengolahan hasil menjadi fokus utama.


Di sisi lain, dorongan ini juga dilatarbelakangi kekhawatiran klasik: ketergantungan berlebihan pada padi. Diversifikasi pangan dinilai mendesak agar sistem pangan daerah lebih adaptif menghadapi perubahan, baik dari sisi iklim maupun pasar.


Tren pengembangan porang di Kalsel disebut kembali menguat. Salah satu penopangnya adalah keberadaan fasilitas pengolahan di kawasan Bati-Bati yang mulai memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir.


Adapun sebaran lahan pengembangan porang mencakup Kabupaten Tapin seluas 60 hektare, Tanah Laut 16 hektare, Banjar 15 hektare, Hulu Sungai Selatan 15 hektare, Balangan 15 hektare, serta Barito Kuala 6 hektare.


Syamsir memastikan, dukungan anggaran melalui APBD yang telah disetujui gubernur menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah. Porang diposisikan sebagai komoditas strategis, bukan sekadar proyek musiman.


“Tujuannya jelas, meningkatkan nilai tukar petani. Porang harus jadi sumber pendapatan tambahan di luar padi dan jagung,” katanya.


Program bertajuk “Porang Reborn” pun digulirkan. Pemerintah mendorong pengembangan terintegrasi dengan melibatkan kelompok tani, memperkuat kelembagaan, serta memastikan produk porang terserap industri—bahkan diarahkan menembus pasar ekspor.


Jika berhasil, porang tak hanya menjadi alternatif. Ia bisa menjelma menjadi tulang punggung baru ekonomi pertanian di Kalimantan Selatan.



Wrinter Chan

Editor Cor 

Related Posts